Senin, 11 Mei 2008. Pasti ada yang berbeda ketika insan kampus menginjakan kaki di gerbang Universitas Widyatama. Dua buah pos berwarna oranye dengan gaya yang modern tea langsung menyambut insan kampus begitu akan memarkirkan kendaraan. Yap memang terlihat modern seperti pos parkir di mall dan hotel-hotel mewah di kota Bandung.
Di pos tersebut tertera “ Parkir motor Rp. 1000 perkunjungan “. Ini berarti telah terjadi kenaikan tarif parker di kamus ini sebesar 500 rupiah dari tarif sebelumnya. Atau bisa dibilang naik dua kali lipat ! Memang dengan penunjukan sebuah perusahaan pengelola parkir untuk mengelola parkir di kampus akan memberikan pelayanan yang profesional. Namun mengapa kembali mahasiswa yang harus dibebani dengan kebijakan pihak kampus ?
Dalam sebulan saja minimal seorang mahasiswa yang membawa kendaraan bermotor harus membayar biaya parkir sebesar Rp. 26.000,00 (untuk 6 hari kuliah dalam seminggu). Padahal mahasiswa telah dibebani biaya pendidikan yang cukup mahal berkisar antara 3-5 juta per semesternya. Belum lagi untuk membeli buku-buku kuliah dan mengerjakan tugas-tugas yang cukup menelan biaya fotocopy ini itulah. Sekarang ditambah lagi dengan kenaikan biaya parkir. Contoh dong kampus lain yang menggratiskan mahasiswanya memarkir kendaraan bermotor, seperti UPI, UNPAS, UNPAD Jatinangor dan UIN Bandung. Jangan contoh mal-mal atau gedung perkantoran. Kampus tempat mencari ilmu bukan cari duit !
Suatu saat menggunakan toilet kampuspun harus bayar.
Ada yang menarik ketika saya jalan-jalan ke salah satu pusat perbelanjaan di Bandung. Waktu mengunjungi toiletnya saya merasakan suasana yang rapih, bersih, tertata plus mewah. Uniknya di dalam toilet tersebut terdapat sofa dan televisi flat. Sungguh pengalaman yang unik buang air sambil nongton tipi.
Penasaran, saya pun menconba mencari tahu ke pihak pusat perbelanjaan tersebut. Usut punya usut ternyata toilet tersebut bukan dikelola oleh pihak pusat perbelanjaan tersebut, melainkan oleh sebuah perusahaan yang mengelola toilet. Sekedar info saja, sepetak toilet tersebut disewkan oleh pihak pusat perbelanjaan sebesar 5-10 juta rupiah perbulan !
Sebenarnya hal seperti sudah lumrah terjadi di dunia bisnis. Dimulai dengan komersialisasi lahan perkir di mall-mall yang pengelolaannya diberikan kepada pihak kedua dengan biaya sewa mencapai 10-25 juta rupiah perbulannya. Itulah yang menyebabkan mahalnya memarkirkan kendaraan kita di mal. Mereka (perusahaan pengelola parkir) mengejar setoran minimalnya untuk menutupi biaya sewa lahan sebesar 10 juta tadi, belum untuk biaya-biaya operasional.
Dan hal inilah yang sedang terjadi di kampus kita. Dimulai dengan komersialisasi lahan parkir kampus, apakah suatu saat kita harus bayar hanya untuk sekedar menggunakan toilet di kampus ????????????????????
BERSATU MENOLAK segala bentk KOMERSIALISASI pendidikan !!!!!!!!!!!!!!!!
andung, ” Duh kenapa sih harus ada jalan 1 arah ? Kan jadi harus muter, udah kesiangan ni ! ” celetuk seorang mahasiswa kepada temannya sambil berboncengan sepeda motor menuju kampus Cikutra 204A. ” yah biar engga macet jalannya, soalnya kan disini pusat belanja di Bandung. Nanti kalau jalurnya 2 arah malah tambah macet ” jawab temannya yang sedang ’rusuh’ mengendarai sepeda motor bebek tuanya karena sudah hampir masuk kuliah.
Waktu menunjukan pukul 1 siang, seorang mahasiswa terengah-engah menarik napasnya seraya bertanya “ Pak ruang E 209 di mana ya . . ?” , Oh naik saja ke atas di dekat GSG, tutur seorang staff Universitas Widyatama. Setelah kurang lebih 5 menit mencari ruangan E209 akhirnya si mahasiswa menemukan kelas tersebut dengan penuh kekecewaan. . .mengapa?
Berkata namun tak bersuara Sebuah ucapan namun tak terdengar oleh indera pendengaran kita. sebuah hasrat yang telah tertuang namun tak mengusik telinga kita. Hanya sekilas guratan kata-kata di dinding kota, terkadang terasa indah bila dicitrakan oleh penglihatan kita, namun juga terkadang mengusik pemandangan mata. Sebuah fenomena corat-coret dinding di kota besar seperti Bandung. sebuah ekspresi ataukah hanya vandal belaka. . ?